Betapa terkejutnya Saya 2015 lalu mengetahui bahwa pernikahan yang sunah, ternyata bisa berubah jadi haram, makruh, mubah, dan wajib ketika memenuhi kriteria tertentu. Pun, sama dengan penghilangan nyawa yang terlarang bisa berubah jadi boleh ketika dilakukan oleh algojo dalam menegakkan keadilan.
Fakta tersebut membuat Saya terus mempertanyakan kembali apa itu kebenaran? apakah selama ini benar yang Saya percayai adalah kebenaran semu yang berlandaskan ego?.
Hal tersebut mengantarkan Saya pada konsep lain, yakni kebijaksanaan yang ternyata menjadi dasar pertikaian di dunia nyata dan maya.
Kenyataannya, kebenaran pada umumnya tidak memiliki definisi mutlak seperti yang apa Saya percayai hingga masa dewasa awal. Namun, fleksibilitas definisi mengakibatkan ia harus terus bersanding dengan kebijaksanaan. Jika tidak, kekacauan akan terjadi, debat bodoh di internet adalah contohnya.
Debat bodoh netizen di internet didasari pada definisi yang keliru mengenai topik yang dibahas. Saya merujuk pada debat bodoh, bukan debat kusir yang cenderung lumrah dan masuk akal.
Debat bodoh berakar pada pemaksaan definisi kebenaran yang dinamis pada tiap orang. Mereka selalu beranggapan bahwa hanya opini mereka yang benar dengan kebutaan bahwa mereka sendiri memiliki kerangka berpikir yang menyimpang: mereka tidak paham bagaimana mendefinisikan suatu kasus dan kerangka berpikir apa yang paling tepat untuk digunakan dalam menguliti topik yang sedang dibahas.
Jika kamu bertanya apa atau mana yang benar? jawabannya ada di pemilik definisi entitas.
Dalam beragama, tunduklah pada definisi kitab suci.
Dalam berbahasa, tunduklah pada definisi kamus.
Dalam hukum, tunduklah pada definisi undang-undang.
Memang, benar dan salah tidak selamanya 0 dan 1
Kadang ia bernilai -0,3 atau 0,9
Kadang bernilai 0,2 atau 1,1
Namun, ketika ia bernilai 0,5 di situlah peran kebijaksanaan untuk menentukan ke mana dia berpihak, ke 0 atau ke 1.
Lantas, apakah kita cukup bijaksana untuk memutuskan kecenderungan 0 atau 1?
Ahad, 1 Februari 2026
14.51
Didik Setiawan
#definisi
#kebenaran
#copilot
Fakta tersebut membuat Saya terus mempertanyakan kembali apa itu kebenaran? apakah selama ini benar yang Saya percayai adalah kebenaran semu yang berlandaskan ego?.
Hal tersebut mengantarkan Saya pada konsep lain, yakni kebijaksanaan yang ternyata menjadi dasar pertikaian di dunia nyata dan maya.
Kenyataannya, kebenaran pada umumnya tidak memiliki definisi mutlak seperti yang apa Saya percayai hingga masa dewasa awal. Namun, fleksibilitas definisi mengakibatkan ia harus terus bersanding dengan kebijaksanaan. Jika tidak, kekacauan akan terjadi, debat bodoh di internet adalah contohnya.
Debat bodoh netizen di internet didasari pada definisi yang keliru mengenai topik yang dibahas. Saya merujuk pada debat bodoh, bukan debat kusir yang cenderung lumrah dan masuk akal.
Debat bodoh berakar pada pemaksaan definisi kebenaran yang dinamis pada tiap orang. Mereka selalu beranggapan bahwa hanya opini mereka yang benar dengan kebutaan bahwa mereka sendiri memiliki kerangka berpikir yang menyimpang: mereka tidak paham bagaimana mendefinisikan suatu kasus dan kerangka berpikir apa yang paling tepat untuk digunakan dalam menguliti topik yang sedang dibahas.
Jika kamu bertanya apa atau mana yang benar? jawabannya ada di pemilik definisi entitas.
Dalam beragama, tunduklah pada definisi kitab suci.
Dalam berbahasa, tunduklah pada definisi kamus.
Dalam hukum, tunduklah pada definisi undang-undang.
Memang, benar dan salah tidak selamanya 0 dan 1
Kadang ia bernilai -0,3 atau 0,9
Kadang bernilai 0,2 atau 1,1
Namun, ketika ia bernilai 0,5 di situlah peran kebijaksanaan untuk menentukan ke mana dia berpihak, ke 0 atau ke 1.
Lantas, apakah kita cukup bijaksana untuk memutuskan kecenderungan 0 atau 1?
Ahad, 1 Februari 2026
14.51
Didik Setiawan
#definisi
#kebenaran
#copilot


0 Komentar