Ramadan & Idul Fitri 1447 H

 


Belum diedit 

[Ramadan & Idul Fitri 1447 H]
[Dilatasi Pahala]

Sudah lama tidak cocoklogi fisika / pseudoscience, kali ini Saya mau singgung tema Lailatul Qadar.
Konsep dilatasi atau pemelaran pada waktu terjadi akibat kecepatan (atau mungkin kelajuan?) yang sangat tinggi hingga mendekati cahaya dan/atau pengaruh gravitasi yang sangat kuat sehingga waktu bergerak sangat lambat dan bisa mendekati 0 alias berhenti.
Satu malam bernilai 1000 bulan secara teori bermakna pada malam tersebut kecepatan bumi mencapai kecepatan super. Ada 'pengamat' di luar sana yang selama 1000 bulan melihat kita beribadah dengan bumi yang bergerak luar biasa cepat. Secara kosmik, ini masuk akal. Bayangin, alien ngeliat bumi ngebut selama 1000 bulan di bima sakti, padahal kita cuma ngerasa satu malam.
Atau, bisa juga pakai perspektif gravitasi. Konsep ceritanya adalah bumi terperosok ke lubang hitam dengan sangat lambat. Ada 'pengamat' di luar sana yang selama 1000 bulan melihat bumi terperosok dan kita cuma merasa satu malam saja. Secara teori pun masuk akal juga.
Nah, yang diperdebatkan adalah kejadian yang hanya terjadi satu malam. Artinya harus ada percepatan dan perlambatan yang secara teknis akan menyebabkan guncangan dalam mekanika klasik.
Tapi balik lagi, di skala kosmik, eksistensi hukum dan teori ini mungkin belum berhasil diungkap.
Tapi kalo ditanya apakah masuk akal? ya masuk aja, walaupun bukti empirisnya nggak ada.

Jumat, 13 Maret 2026
19.13

Didik Setiawan

[Kekekalan Akhirat]

Sekitar usia 16 tahun Saya sudah memikirkan -atau mungkin menyimpulkan bahwa- keabadian merupakan konsep yang tidak masuk akal. Saat SMA, Saya masih belum paham gimana caranya bisa ada keabadian kalau waktu adalah dimensi yang punya ujung seperti panjang, lebar, dan tinggi?. Saat itu Saya berpikir: semua dimensi harus ada ujung. Ada awal ada akhir, pun dengan waktu. Itu dulu, saat masih remaja.
Tapi, gimana kalo dimensi waktu itu anomali? dia nggak punya ujung atau ujung dari waktu adalah ujung lainnya? alias ujung dari akhir waktu adalah awal dari waktu sendiri. Bayangin tali yang dibuat lingkaran, nah melingkar,looping seperti itu. Tapi, kan tetap looping si panjang tetap punya batas kalau diputus/potong? Gimana kalo dimensi waktu loopingnya tak pernah diputus?. Mari kita bahas pseudoscience-nya.
Bayangkan sebuah tali yang ujungnya diikat menjadi lingkaran. Anggaplah panjang tali satu meter. Kemudian, kita ukur panjangnya tiap satu centimeter tanpa memberikan patokan awal dan akhir. Kita akan terus mengukur hingga melebihi satu meter dan menciptakan ilusi semu tak terhingga. Waktu tak terhingga adalah keabadian.
Alternatif konsep keabadian lainnya adalah dengan menggunakan relativitas waktu dan gravitasi. Bayangkan waktu yang bergerak sangat lambat hingga mencapai nol atau berhenti. Kita hidup di sana tetapi dengan garis waktu yang lain.
Tempat tinggal kita adalah waktu yang berhenti, sedangkan aktivitas berada di lini masa lain karena bergerak membutuhkan dimensi waktu. Alhasil, dua garis waktu berdampingan secara simultan dan menciptakan alternatif konsep keabadian.
Tentu, tidak ada bukti atas semua dugaan ini. Meskipun begitu, interpolasi pengetahuan yang ada dapat memberikan pendekatan rasional bahwa keabadian akhirat dapat dicapai dengan pendefinisian dimensi waktu yang berbeda dengan apa yang kita alami.

Jumat, 13 Maret 2026
21.06

Didik Setiawan

[Kelembaman Takdir]

Teori Pak Newton menyatakan bahwa sesuatu yang diam akan terus diam dan benda yang bergerak bergerak akan terus bergerak lurus beraturan sampai ada sesuatu yang memengaruhinya dari luar. Ini adalah teori males gerak secara harfiah: yang diam akan terus diam, yang bergerak akan bergerak terus. Lalu apa hubungannya sama Ramadan? Nah, ini dia cocokloginya.
Ramadan kan udah mau selesai nih, masa latihan menjadi lebih baik sudah selesai, seharusnya kita semua jadi lebih baik dong? faktanya tidak semudah itu pulgoso.
Teori kelembaman atau kemalasan ini melekat pada manusia secara harfiah dan diperkuat dengan glorifikasi label malas gerak (mager) pada diri. Hal ini berimbas pada kecenderungan kita untuk tidak melakukan perubahan meskipun sudah latihan selama sebulan. Hal ini selaras dengan dalil yang menyatakan bahwa suatu kaum tidak akan berubah hingga ia mengubah dirinya sendiri.
Dengan kata lain, untuk menciptakan perubahan diri, kita harus melawan inersia atau kelembaman dengan membangun sesuatu -baik di dalam atau di luar diri- yang dapat melawannya.
Bayangin harga telor gulung dua ribu rupiah. Kalo kita cuma punya seribu, apakah dapet? apakah kalo punya 1700 dapet?. Kita baru dapet setelah mencapai nilai ambang batas tertentu, harga dua ribu. Itulah level mager tadi, ambang batas yang harus ditangani. Sebenarnya lebih cocok pake teori fotolistrik sih, tentang energi ambang batas. Tapi okelah, kan cocoklogi.
Kesimpulannya apa? untuk berubah jadi lebih baik, kita butuh energi, butuh gaya yang melebihi ambang batas kemageran diri. Itu saja.

Jumat, 13 Maret 2026
22.14

Didik Setiawan

[Kompresi Ketupat]
beras berkembang, tidak bisa l;ebih besar lagi karena terhambat, dan seakan-akan ilusi kompresi dari  bungkus Ketupat
[Waktu Paruh Rendang]
Hari pertama langsun habi sbanyak, hari kedua sisa sedikit, jari ketga hampir habis karena bosan, mirip waktu paruh, tapi jadi 9 per 10 karena makanan
[Oscillator Opor]
lihat jam berdetak, batu alam kasih listrik bergerak stabil. iyu oscilator, jadi acuan. pun opro sebagai oscilator adalah acuan hari raya besar, lebaran hari besar, ketupat dan rendang adlah iscdolator juga

Prompt Copilot
[0]
large isometric city illustration of Eid al-Fitr celebration, lively Indonesian neighborhood filled with more than 50 people celebrating outside their homes, families visiting each other, children running and playing, people sharing ketupat and traditional food at outdoor tables, neighbors greeting and laughing, kids receiving envelopes of money, bicycles and street activities, colorful houses and small streets, a beautiful mosque as the central landmark decorated with Eid ornaments, hanging ketupat decorations, festive lights and crescent moon ornaments across the streets, joyful festive atmosphere, detailed isometric world full of small stories and activities, vibrant colors with accents of black white and gold, highly detailed digital illustration, wide panoramic composition.
[1]
Epic and dramatic scientific illustration of Earth moving at the speed of light being pulled into a massive black hole. Highly detailed, realistic astronomical depiction: relativistic effects, light bending around the black hole, visible debris and Earth's atmosphere. In the background, a few cute imaginative aliens observing the event, as minor elements. Ultra-high detail, high-resolution, ultra-realistic scientific illustration style, dark colors with dramatic lighting from the black hole horizon, showing light effects, shadows, and extreme gravity distortions.
[2]
Create an educational, realistic, and colorful illustration of the Cyclic Theory of Time in portrait orientation.
A vertical timeline like a ruler with time markers along the line, similar to popular timeline diagrams online.
Include a loop on the timeline to show the cycle, with arrows pointing from the “end” back to the “beginning” to emphasize that time is cyclical.
Add a realistic black hole, positioned anywhere, which visually slows down time on the timeline with distortion or warp effects around it.
Use vibrant colors to highlight the timeline, the loop, and the black hole, while keeping the style realistic and clear.
Add subtle lighting, glows, or shadows to enhance depth and visual appeal.
[3]
Create a semi-realistic comic-style illustration, full color, cheerful atmosphere.
Scene: Sir Isaac Newton in his classic 17th-century outfit (robe and wig, clearly recognizable as Newton) acting as a street vendor selling rolled eggs from a cart. The cart has a sign that says: "Telur Gulung Kelembaman". Newton is saying: "cuma dua ribuan"
Setting: in front of a school with a gate and sign, the sign reads "SD Inersia". Many elementary school kids are queuing excitedly in front of the cart.
Focus on Newton’s friendly, enthusiastic expression, the kids’ excitement, and clear detail of the cart and rolled eggs. Bright, cheerful colors and lively composition that capture the humor and energy of the scene.
[4]
[5]
[6]

Posting Komentar

0 Komentar