Klaim Diri

"Gamer itu diakui, bukan mengakui"
Begitu komentar Facebook yang Saya baca sekitar 2012 lalu.
"Lah, berarti meskipun gua main CS (Counter Strike) di rumah tiap hari tetep nggak bisa dianggap? harus main PB (Point Blank) di warnet terus gitu?"
Simpul Saya di masa remaja.
---
"Gua aslinya introvert loh"
"Masa sih?? Lu kan heboh orangnya"
Perbincangan semacam itu Saya dapati sekitar 2020 lalu dan terus berulang di dalam hangatnya obrolan organisasi
"Berarti kayak gini tuh boleh self klaim? nggak perlu tunjukkin MBTI gitu?"
Pikir Saya penuh kerancuan.
---
Pada tahun 2019, Saya memahami bahwa buzzer adalah cap yang digunakan untuk siapa pun yang menentang para oposisi dengan beragam argumen yang logis.
Tahun berganti, di 2024, satu kalimat membela pemerintah bahkan bisa dianggap buzzer.
"Apa segampang itu dapetin julukan buzzer?"
---
"Fake it till you make it"
Kita berpura-pura menjadi apa yang bukan diri kita, klaim diri aja dulu, sok bisa dan sambil belajar. Lambat laun, orang sekitar akan memberikan pengakuan atas kepalsuan (baca: kepura-puraan) yang ternyata sudah berubah jadi kenyataan.
---
Udah gini aja, caption original hilang karena nggak ter-save di notepad, lelucon yang menyebalkan.

Didik Setiawan

19 Februari 2026
23.01

Prompt gambar:

Surreal digital illustration of a young person standing in the center, half of their face in warm light and half in shadow. Around them floating transparent labels like “gamer”, “introvert”, “buzzer”, “fake it till you make it”. Some labels look solid and glowing, others cracked and fading. Social media notification icons blurred in the background. Moody lighting, cinematic, deep contrast, symbolic, thought-provoking, high detail, vertical portrait 4:5, Instagram aesthetic.

Posting Komentar

0 Komentar