Dimulai dengan berita Rusia Ukraina dan prediksi perang dunia ketiga yang jatuh pada tengah tahun, lalu masalah Palestina yang masih sama, mulai lagi perang dagang Amerika China karena beliau terpilih lagi, ditambah barisan sakit hati 2024 yang masih riuh seperti 2019 lalu. Dari situlah tema distopia Saya ambil untuk memulai 2025, karena Saya yakin seluruh dunia akan kacau. Dan ya, benar, kekacauan terjadi, Indonesia cukup kacau.
Sehingga, postingan penutup pun akan bertema distopia juga, tema gelap beraroma pesimis yang menghardik, melawan arus tema kebahagiaan yang biasanya ramai di akhir tahun.
Tahun ini tidak jauh lebih baik dari tahun lalu, bagi sebagian orang malah kian memburuk karena ditinggal bagian hidupnya: orang tuanya. Pun, secara bersamaan banyak pernikahan terselenggara di tahun ini. Idealnya, mereka adalah salah satu golongan paling berbahagia di tahun ini.
Sama juga dengan teman-teman sebaya yang harus menerima kenyataan bahwa impian pernikahan harus diundur, lamaran belum, berjodoh pun bahkan belum.
Tapi lagi-lagi, keseimbangan dunia harus dijaga. Ketika orang lain banyak berbahagia, maka harus ada orang yang berduka lara, harus.
Tahun nanti adalah perpisahan dari masa dewasa awal, pasca satu dasawarsa lepas dari pubertas (baca: masa remaja akhir) atau dewasa awal. Bahkan, yang paling menyakitkan adalah menuju lepasnya status pemuda berdasarkan UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan Pasal 1 Ayat 1.
Lalu, siapa yang menjamin 2026 akan lebih baik?
Badai pasti menyisakan pelangi? siapa yang menjamin gulita malam mengizinkan matahari menggantikan posisinya?
Betul tidak ada badai yang tidak reda, tapi siapa yang menjamin kau masih hidup ketika badai usai?
Ini bukan tentang idealisme yang digerus oleh realisme, melainkan memahami posisi.
Tahun 2025 adalah fase depresi model Kubler-Ross atau disorganisasi & putus asa model Bowlby-Parkes.
Ya, kamu sudah tahu arahnya.
Mengapa tidak kita selesaikan fase tersebut di 2026? menjadi fase penerimaan atau reorganisasi & pemulihan?
Rabu, 31 Desember 2025
14.09
Didik Setiawan
#sahap
#distopia
#2025



0 Komentar